Salah Pemerintahkah?

Jan 05

Sejak berakhirnya masa orde baru pimpinan Soeharto, dimulailah babak baru dalam perjalanan sistem pemerintahan di Indonesia. Masa reformasi yang digadang-gadang akan mampu membawa kesejahteraan dan keadilan sosial memang begitu menjanjikan. Hal yang paling menonjol adalah pemaknaan pasti akan Pancasila, yakni demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Semenjak kebebasan mengeluarkan pendapat kembali mendapat posisi sakral dalam makna demokrasi, seluruh warga negara berbondong-bondong menyuarakan aspirasi mereka. Fenomena yang terjadi saat ini adalah seolah suara rakyat selalu bertema kesedihan dan ketidakberuntungan. Dan yang menjadi kambing hitam tidak lain tidak bukan adalah pemerintah. Seolah penderitaan yang melanda rakyat sepenuhnya karena pemerintah. Seolah apapun penderitaan rakyat, kewajiban pemerintahlah untuk mengatasinya.

Memang benar tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali wakil rakyat yang tidak pantas menjadi panutan rakyat karena jeratan kasus korupsi, pelanggaran kode etik, hingga tindakan melanggar hukum positif lainnya yang sama sekali tidak mencerminkan kedudukan mereka sebagai wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat. Namun, tidak benar pula lantas rakyat menyalahkan pemerintah atas nasib mereka. Padahal tidak sedikit pemuda yang secara jasmani dan rohani sehat, tetapi seolah mereka sendiri enggan memiliki masa depan yang cerah. Meskipun mungkin benar banyak pihak yang sengaja memberikan provokasi negatif. Sampai-sampai tidak jarang kita dengar publik beropini mereka membenci pemerintah. Namun, rakyat tetap memiliki kekuasaan tertinggi dalam negara demokrasi ini, apalagi terhadap diri mereka sendiri. Jika pemerintah sendiri saja kita benci, lantas siapa yang akan mendukung pemerintahan kita sendiri?

Maju-mundurnya bangsa ini tidak hanya tanggung jawab pemerintah seorang. Jika memang ingin menjadi negara maju, sudah bukan masanya nasib digantungkan seutuhnya pada negara. Toh berkeluh-kesah sama sekali tidak membawa perubahan positif yang kita idamkan. Daripada mengutuk beribu kegelapan, lebih baik bergegas mencari lentera sebagai sumber cahaya. Daripada selalu menyalahkan orang lain karena nasib diri, mengapa tidak segera mencari solusi dan bangkit dengan jiwa yang besar?

Article Source

Leave a Reply

Share